Saturday, July 30, 2011

MENEMBUS KABUT MALANG

Lama juga rasanya tak menapakkan kaki di jalur Jateng-Jatim, baik lewat jalur pantai utara maupun pantai selatan. Karena itu, saat saya dan rombongan tiba di Jatim dan harus melalui jalan tol Surabaya-Gempol yang begitu panjang, hati tetap bersemangat. Terlebih, jalur-jalur yang kami lalui telah tertata rapi. Dengan penataan maksimal, perkembangan sarana transportasi darat Jatim melesat semakin maju.
Kota-kota pesisir yang kami lalui lebih tertata dan itu semua mendorong perkembangan perekonomian warga jadi semakin pesat. Inilah kesempatan pertama saya kembali bernostalgia, setelah sekian belas tahun berlalu. Banyak hal yang telah berubah. Itulah Jatim dengan semangat milenium baru.

Kami makin senang saat kekhawatiran bak terjebak kemacetan panjang di jalur Gempol, Porong-Malang, tak menjadi kenyataan. Saat itu, jalan dalam keadaan sepi, lepas tengah malam. Hanya satu dua armada barang yang menemani kami menembus jalur menuju ke Kota Malang tersebut.

Udara dingin terasa menembus tulang saat kendaraan yang kami tumpangi mulai merambah Kota Arema. Rombongan kami segera mencari penginapan beberapa saat setelah melewati gerbang kota. Tempat itulah yang kami butuhkan untuk sekadar melepas lelah, sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Malang tak dapat ditolak, untung tak bisa dibendung. Itulah yang kami rasakan dini hari itu. Sebab, meski merasa beruntung bisa merasakan kesegaran udara kota di kaki Gunung Semeru tersebut, kami tak mendapatkan kamar hotel memadai. Akhir pekan itu, hampir seluruh kamar hotel telah terisi. Masih beruntung, masih ada satu kamar yang tak jauh dari Kampus Unibraw. Akhirnya, kami berlima harus berdesak-desakan di kamar itu. Meski demikian, beberapa saat kemudian, kami pun terlelap kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.

Seperti baru sekejap, kami dibangunkan oleh kabut dan temaram sinar mentari yang menyapa. Udara dingin awal kemarau yang kami rasakan, mengembalikan kesegaran sekujur tubuh. Tentu, tak lengkap rasanya jika melalui pagi itu tanpa kenikmatan dan kehangatan secangkir kopi. Tanpa membuang waktu, kami pun berburu kopi. Ya, agak sulit memang menemukan kedai atau warung yang bersedia membukakan pintu dan mau melayani serta memenuhi hasrat hati kami.

Setelah agak lama memutari Kota Malang, dengan melewati banyak kompleks kampus yang megah, akhirnya kopi kami dapatkan. Bercengkrama menikmati kesejukan alam sambil mengenang kembali masa-masa lalu saat banyak sahabat tinggal di sana dan biasa kami sambangi, memang menyenangkan.

Memori-memori indah itulah yang coba kami gali kembali dan menjadi sebuah harta yang sangat ”mahal” dan tak mungkin kami tinggalkan. Itulah kenyamanan suasana Kota Malang yang kami dapatkan di antara desiran dingin angin pegunungan. Hari itu pun kami lalui dengan semangat baru untuk melanjutkan perjalanan.

Pagi berikutnya, saat kabut tebal masih menyelimuti kota, roda-roda kendaraan yang kami tumpangi kembali meluncur. Perlahan tapi pasti, kami mulai membelah tabir kabut yang seolah membatasi Kota Malang dan Kota Batu.

Tak lama berselang, Kota Batu pun tampak di pelupuk mata. Kota eksotik yang telah memisahkan diri dan menjadi kota agrobisnis mandiri, membuat kami semakin penasaran ingin mengetahui perkembangannya terkini. Hal itu menjadi salah satu keingintahuan yang harus dipenuhi. Terlebih, selain ada Jatim Park II yang masih dalam tahap pembangunan, Kota Batu juga memiliki tempat wisata yang tak kalah menarik, Sarangan.

Lama tak menyambangi daerah itu membuat kami agak lupa jalan menuju ke tempat-tempat eksotik tersebut. Terlebih Kota Batu telah berkembang menjadi kota asri dengan berbagai tambahan dan ornamen di sana-sini. Tak urung, kami sempat tersesat dan harus berputar-putar dahulu untuk bisa menemukan Sarangan.

Kabut tebal mulai menipis. Itu semakin memudahkan kami. Meski demikian, agak siang kami baru bisa menemukan tempat wisata Sarangan. Rasa takjub mendera saat mengetahui perubahan penataan tempat wisata tersebut.

Sarangan makin menarik, tertata rapi, dan tambah menawan. Tak sia-sia kami merogoh kocek lebih untuk masuk ke tempat tersebut. Pintu masuk di ketinggian dan jalanan menurun menuju tempat parkir, membuat panorama indah dan kontur jelas Sarangan terpampang di depan mata.

Tempat itu menyajikan berbagai pilihan hiburan bagi kami. Kolam renang, atraksi perahu, berkuda keliling kompleks, menyaksikan koleksi ikan air tawar berbagai jenis, berbelanja buah dan bunga, atau sekadar nongkrong menikmati suasana kawasan wisata pegunungan, bisa kita pilih.

Bagai segerombolan ABG narsis, kami pun tak lupa jeprat-jepret untuk mengabadikan momen nostalgia bersama di tempat tersebut. Terlebih, suasana dan tempat yang tersedia begitu menjanjikan bagi sebuah kenangan yang begitu dalam.

Jangan Lupakan Buah dan Bunga

Tak lengkap rasanya jika pergi berlibur ke suatu daerah dan pulang tanpa membawa buah tangan. Paling tidak, kekecewaan akan menghinggapi si buah hati yang sabar menanti di rumah. Karena itu, setelah puas menelanjangi keindahan alam Sarangan, pasar bunga dan buah yang ada di kompleks wisata tersebut menjadi tujuan kami.

Saat langkah-langkah kaki semakin mendekati blok kios-kios penjualan bunga, hati kami semakin terpikat. Stan-stan bunga ditata sedemikian rupa menjadi semakin artistik. Atap tembus sinar dan bentuk pilar maupun plafon penyangganya yang ditata sedemikian rupa membuat bunga-bunga yang ditawarkan di tempat tersebut semakin terlihat indah. Terlebih lagi, berbagai jenis dan varietas bebungaan terdapat di sana seperti kaktus, Aglonema, Anthorium, maupun kembang hias lain.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi dari yang paling murah dan bisa dijangkau oleh kocek seluruh pengunjung hingga yang mahal dan hanya bisa dikoleksi orang-orang tertentu. Para penjaja bunga yang ramah dan dengan sabar melayani dan mau menjawab untuk memenuhi keingintahuan pengunjung, membuat kami semakin betah. Beberapa bunga pun kami pilih. Lumayan sebagai penghias halaman rumah. Apalagi, bunga-bunga itu sangat indah.

Ada anggapan yang mengatakan, kita belum ke Malang jika tidak mencicipi kelezatan apel malang. Karena itu, setelah berbelanja bunga, kaki kami pun melangkah ke kios-kios yang menyediakan apel hasil perkebunan setempat. Tidak hanya varietas asli setempat, melainkan juga varietas luar yang ditanam di tempat tersebut. Kembali kami bertemu dengan para penjaja apel yang bersahabat. Mereka tak segan untuk menyediakan sampel dagangannya sehingga pengunjung tidak akan kecewa saat membeli nanti

Begitu juga dengan kami. Beberapa apel berbagai macam pun bisa kami cicipi. Akhirnya pilihan kami pun tertambat pada apel Malang yang berwarna hijau kekuningkuningan pertanda buah ranum agak masak. Saat harus membayar pun kami pun bertambah senang. Sebab harga apel yang dijajakan di tempat wisata tersebut, benar-benar jauh lebih murah daripada jika kita membeli di tempat lainnya.

Puas berbelanja, tak lupa kami singgah ke kafe-kafe yang tersedia di pinggir kolam renang. Kehangatan kopi yang kami teguk, benar-benar bisa mengusir udara dingin Sarangan yang mulai menyergap. Bincang-bincang dengan rekan di sana sungguh sangat mengasyikkan. Hampir lupa waktu. Saat itu, hari pun beranjak sore. Karena itu, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan kami menyusuri jalanan pada jalur Jatim-Jateng. Namun jalur yang kami pilih bukan lagi jalur pantai utura melainkan jalur tengah, Batu Malang via Kediri, Sragen dan kembali ke pulang dengan hati riang.

sumber: kaskus.us

Friday, July 29, 2011

5 Tempat Wisata 'Drama Korea' yang Wajib Dikunjungi

Untuk para pecinta drama Korea, Korea Selatan jadi tempat wisata impian. Berikut ini lima tempat yang wajib dikunjungi jika Anda ingin melihat langsung lokasi syuting serial drama favorit Anda.

1. Nami Island


Penggemar Winter Sonata, wajib datang ke Nami Island. Pulau ini berada di kawasan Chuncheon, Gangwon-do. Jika tak mau susah untuk mencapai pulau ini ada tur bus yang berangkat dari Insadong, Seoul, pada pukul 09.30 dan kembali pukul 16.00. Harga tiket busnya PP 15 ribu Won atau sekitar Rp 120 ribu.

Untuk masuk ke pulau ini, pengunjung harus membayar tiket seharga 10 ribu Won. Namun untuk turis asing mendapat diskon menjadi 8 ribu Won atau sekitar Rp 64 ribu.

Di pulau ini, Anda bisa melihat langsung di mana saja Choi Ji-woo dan Bae Yong Joon, dua pemeran utama Winter Sonata, saling memadu kasih. Misalnya saja hutan tempat mereka berjalan-jalan. Pemandangan di tempat ini memang sungguh romantis.

2. GyeongGi-Do

Daejanggeum Theme Park berada di wilayah GyeongGi-Do dan merupakan theme park pertama yang dibangun untuk sebuah serial drama. Penggemar setia serial Jewel in the Palace wajib datang ke tempat ini.

Di kawasan wisata ini, pengunjung bisa berfoto di berbagai lokasi syuting Jewel in The Palace, mencicipi makanan ala kerajaan dan melihat properti-properti syuting. Pengunjung pun bisa berfoto dengan atribut kerajaan.


Harga tiket masuk tempat ini adalah 5 ribu Won (dewasa). Untuk mencapai Daejanggeum Theme Park, Anda bisa naik subway line satu dari stasiun Yangju dan turun di MBC Yangjoo Culture Valley.


3. Lotte World


Anda penggemar serial Meteor Garden-nya Korea yaitu 'Boys Before Flowers' (BBF)? Coba datang ke Lotte World. Kompleks belanja dan wisata terbesar di Seoul ini merupakan salah satu lokasi syuting serial yang dibintangi Lee Min Ho itu.

Syuting BBF tempatnya berlangsung di Lotte Hotel World. Di sana merupakan lokasi syuting ketika Ji-Hoo (Kim Hyun-Joong) mengadakan pesta selamat datang untuk kekasihnya, Min Seo-hyeon.

Selain bisa melihat lokasi syuting serial favorit Anda, di tempat ini Anda pun bisa berbelanja. Ada juga pusat hiburan ala
Disneyland di sini. O'ya, tempat ice skating yang ada di Lotte World ini juga merupakan salah satu lokasi syuting serial 'Stairway to Heaven'.

Untuk mencapai Lotte World, Anda bisa menggunakan subway line dua dan turun di stasiun Jamsil.


4. N Seoul Tower


N Seoul Tower terletak di puncak Gunung Namsan, Seoul. Ada dua serial terkenal yang lokasi syutingnya di sini yaitu Boys Before Flowers dan Princess Hours.

Di menara yang dibangun sejak 1969 itu, pengunjung bisa melihat lokasi syuting saat Gu Jun-pyo (Lee Min Ho) menunggu Jan-di. Saat itu Jun-pyo berkencan dengan Jan-di namun akhirnya terjebak di gondola dalam perjalanan menuju N Seoul Tower.

Sedangkan untuk Princess Hours, di sinilah ada Teddy Bear Museum. Museum tersebut merupakan lokasi syuting adegan Chae-gyeong jalan-jalan bersama nenek sang calon raja Lee Shin.

Tertarik ke sini? Jika ingin mengunjungi Teddy Bear Museum saja, Anda harus membayar tiket 8 ribu Won. Namun jika mau masuk ke N Seoul Tower, tiketnya menjadi 14 ribu Won.

Untuk menuju ke tempat ini ada beberapa cara, pertama dengan menggunakan Seoul City Tour Bus yang berkeliling setiap 30 menit. Kedua dengan naik sub way dari line tiga atau empat dan turun di stasiun Chungmuro. Lalu Anda keluar melalui no. 2 dan naiklah Namsan Shuttle Bus yang ada di depan Daehan cinema.

Ingin mencoba pengalaman perjalanan lainnya? Anda juga bisa naik cable car untuk menuju N Seoul Tower. Untuk naik cable car, Anda bisa naik subway line empat dan turun di Myeongdong exit 3. Lalu jalan hingga Hotel Pacific selama kurang lebih 10 menut untuk sampai ke stasiun cable car.


5. Myeongdong


Myeongdong merupakan lokasi favorit turis yang ke Seoul. Di tempat ini ada banyak tempat belanja mulai dari brand lokal hingga brand internasional seperti H&M, GAP dan Uniqlo.

Outlet kosmetik Korea yang terkenal seperti Etude dan Face Shop juga tersebar di sini. Berbagai restoran fast food internasional seperti McDonald dan KFC bisa ditemukan di Myeongdong.

Tak hanya itu, di Myeongdong pun Anda bisa melihat lokasi syuting dua serial drama yaitu Princess Hours dan Boys Before Flowers. Untuk Princess Hours, di sinilah Lee Shin dan Chae-gyeong berciuman. Sedangkan Boys Before Flowers, ada restoran yang menjadi lokasi syuting di sini yaitu The Farmer's Table.

Myeongdong dapat dicapai dengan subway line 4 warna biru dan turun di Stasiun Myengdong.

(eny/hst)
(Eny Kartikawati / adt)
sumber : detik travel